Desiderio desideravi Sejak dulu beredar kalimat "Jesuita nec cantat, nec rubricat" / "Seorang Yesuit tidak bernyanyi dan tidak memperhatikan peraturan liturgi". Mungkin ada yang benar juga. Karena Sri Paus Fransiskus tidak bernyanyi (karena paru-parunya tinggal 50%), karena banyak Yesuit sibuk dengan menulis buku dan bekerja di lapangan. Namun demikian, pada pertengahan tahun yang lalu Sri Paus Fransiskus menulis Surat Apostilik dengan judul "Desiderio desideravi". Nampaknya Roma telah menerima banyak keluhan dari mana-mana bahwa pengetahan tentang liturgi amat kurang. Dalam dokumen ditulis, "Saya menginginkan agar surat ini membantu kita mengobarkan kembali kekaguman kita akan keindahan kebenaran perayaan Kristiani, untuk mengingatkan kita akan perlunya formatio liturgi yang otentik, dan untuk menyadari pentingnya ars celebrandi [1] sebagai pelayanan pada kebenaran Misteri Paska dan partisipasi semua orang." (DD 62).- Saya rasa dokumen i...
Postingan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Masalah yang dialami oleh organis dan jalan keluar Karl-Edmund Prier sj Dari pergaulan dengan para organis tidak hanya di Yogya, tidak hanya dalam rangka pelajaran, saya kumpulkan sejumlah masalah yang mungkin tidak selalu disadari oleh organis ybs. Namun yang de facto dialami bila jujur: 1. Mengiringi dengan not angka - namun tidak maju dan sebenarnya kurang puas. 2. Organis jadi tukang rem: kor sekarang berusaha maju - organis mengiringi secara kampungan. 3. Dianggap oleh dirigen bisa mengiringi tanpa persiapan - akibatnya merasa minder. 4. Pakai Transpose ternyata bukti kemalasan / kebodohan dan merugikan telinga. 5. Mengiringi kor SATB dengan not angka mustahil menjadi baik, karena detil tidak dapat diperhatikan - padahal "yang kecil2 itulah yang menentukan". 6. ...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Inkulturasi Musik Liturgi Mas Kini [1] Nampaknya banyak orang masih bingung apakah inkulturasi musik liturgi termasuk nostalgia, hobby sejumlah orang, maka sebaiknya ditinggalkan saja untuk memberi tempat kepada musik kontemporer lain. Tiga pertanyaan yang saya bahas di bawah ini: 1. Apakah perlu inkulturasi musik liturgi di Indonesia, mengingat musik kontemporer makin berkembang juga? 2. Apakah musik tradisional Indonesia yang kedaluarsa dapat menjadi sumber untuk inkulturasi? 3. Apakah Gereja Indonesia sebagai Gereja universal masih perlu memperkembangkan identitasnya melalaui inkulturasi? ad 1. Apakah perlu inkulturasi musik liturgi di Indonesia Musik Indonesia jelas sedang berkembang dan mencari identitasnya: Ada orang yang berkiblat pada musik gaya barat / “klasik”; orang lain mencoba memperkembangkan "musik kontemporer", termasuk musik pop daerah. Musik gereja inkulturatif yang diperjuangkan oleh PML termasuk juga dalam proses mencari identitasnya. Bel...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pertanyaan dan jawaban dari webinar “ Menjadi Dirigen dan Pemazmur yang Berkualitas, 24 Juli 2021. 1. Dari : Edy Darsono Pertanyaan : Perbedaan membawakan lagu birama 2/2 dengan 2/4 : Jawab : Birama 2/2 dan 2/4 disebut dengan musik dua, di mana aksen jatuh pada hitungan pertama. Pe laks anaannya menggunakan pola dua. Lagu birama 2/2 dibawakan dengan lebih lebar dan gagah. Lagu birama 2/4 dibawakan dengan ringan dan santai. 1. Dari : Fransiscus Xaverius Pertanyaan : Boleh tidak mazmur dibacakan kalau tidak bisa menyanyikan mazmur tersebut? Jawab : Boleh saja, namun disarankan akan lebih baik jika berlatihlah supaya bisa menyanyikan mazmur tersebut. Dan jika ingin didaraskan, daraskanlah dengan tetap memperhatikan prinsip pembawaan yang baik dan bagus. Perhatikan artikulasi, phrase, dan penjiwaan (sama seperti orang membacakan puisi). 2. Dari : Yuniati Pertanyaan : Apak...